A. KRISTEN = PENGALAMAN

Posted On September 24, 2009

Filed under A. KRISTEN = PENGALAMAN

Comments Dropped leave a response

SEJAK AWAL

Sejak awal kita menapaki jalan kekristenan, itu sudah merupakan pengalaman rohani. Menjadi percaya kepada Yesus itu bukan sekedar proses menjadi tahu dan percaya. Tetapi adalah proses di mana Roh Kudus menginsafkan kita akan dosa (Yoh 16:8-11). Roh Kudus (Tuhan sendiri) menjamah hati kita sehingga tersentuh dan menjadi yakin. Tidak bisa tidak itu merupakan proses yang bersifat supranatural meskipun tidak selalu terasa dan terlihat spektakuler.

Kemudian, Roh Kudus melahirkan baru, yaitu menjadikan manusia sebagai kodrat baru (Tit 3:5). Ini jelas bukan teori sebab memang terjadi perubahan supranatural atas esensi dan substansi manusia. Di dalam Kristus kita diubahkan menjadi ciptaan baru. Proses ini bukan bersifat teoritis, konseptual, atau pandangan abstrak. Namun sebuah pengalaman illahi walau tidak selalu spektakuler.

Roh Kudus mendiami orang percaya (1 Kor 6:19). Artinya, Roh Tuhan masuk dan tinggal dalam diri orang percaya. Itu sebuah proses supranatural. Maka dalam Wahyu Yesus menggambarkan demikian: ”Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok, jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Why 3:20). Makanya, saat bertobat, seorang konseli diajak berdoa lahir baru dengan berkata kepada Yesus bahwa kita membuka hati dan memohon Dia masuk dan tinggal di dalam hati kita. Dengan doa imani seperti itu, Yesus (Roh Kudus) secara supranatural masuk dalam diri kita. Proses ini seringkali terasa sebagai pengalaman spektakuler. Apalagi ketika dalam diri kita ada roh-roh jahat. Ketika Yesus diundang masuk, roh-roh jahat itu bergejolak dan terusir keluar. Karena itu sering terjadi kasus kelepasan pada saat proses lahir baru itu terjadi.

SAMPAI AKHIR

Akhir atau puncak perjalanan kekristenan juga bersifat supranatural. Saat mati, kita akan dibawa malaikat untuk menghadap Tuhan. Sebaliknya, akhir hidup orang tidak percaya juga bersifat supranatural, yaitu masuk dalam neraka.

Dalam konteks akhir jaman, puncak kekristenan kita merupakan peristiwa supranatural yang dahsyat sekali (lihat lebih jauh di www.yesusdatang2012.wordpress.com). Kita akan diubahkan. Allaso adalah istilah dalam bahasa Yunani yang berarti “diubah” atau “make different” atau “change” yang dipakai dalam surat 1 Korintus 15:51-52 (“Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah”). Ketika Yesus datang diawan-awan, setiap orang percaya yang hidup benar akan diubah menjadi “tubuh kemuliaan” yang surgawi (tidak fana) dan kemudian diangkat naik menyongsong Yesus di angkasa.

Kemudian, kita akan diangkat (rapture). Harpazo adalah istilah dalam bahasa Yunani yang berarti ”diangkat” atau ”caught up” atau ”take by by force”. Istilah ini dipakai untuk menjelaskan proses pengangkatan (rapture) orang-orang percaya pada saat Yesus datang kedua kali (tahap pertama). Paulus mengatakan, “Sesudah itu, kita yang masih hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa” (1 Tes 4:15-17).

BUKAN SEKEDAR PENGETAHUAN

Karena itu, kekristenan bukan sekedar pengetahuan. Kekristenan adalah pengalaman bersama Tuhan. Kekristenan adalah perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Pengetahuan hanya bersifat pemikiran-pemikiran, konsep-konsep, ide-ide, dan gagasan-gagasan. Banyak orang Kristen yang hanya sekedar tahu ini dan itu. Bahkan hafal ayat ini dan itu. Tentunya bagus. Namun kurang jika tanpa masuk dalam pengalaman rohani.

Beberapa teolog menganggap Alkitab hanya sebagai pengetahuan saja. Akibatnya, mereka tidak percaya akan pengalaman-pengalaman rohani. Dan, orang yang banyak tahu, terkadang sulit untuk masuk dalam pengalaman-pengalaman rohani. Pengetahuan yang luas membawa kita menjadi sangat rasional. Seringkali membawa kita menjadi ”sok tahu” sehingga merasa sudah mengalami banyak hal.

BUKAN TRADISI

Kekristenan juga bukan sekedar tradisi agamawi. Kekristenan bukan seperti upacara keagamaan. Kekristenan bukan sistem ibadah yang serba teratur semata-mata. Jika hanya demikian, kekristenan menjadi hampa. Makanya, orang-orang Kristen yang seperti itu tidak pernah memiliki gairah rohani. Kehidupan doa, iman, dan ibadahnya suam-suam. Orang Kristen semacam itu hanya menjadi ”churchgoer” yang menjalani hidup beragama Kristen sebagai rutinitas yang membosankan.

Tanpa maksud mendiskreditkan, fakta membuktikan bahwa orang-orang Protestan cenderung terkungkung dalam kehidupan kristen yang bersifat tradisi agamawi seperti itu. Karena itu Tuhan memunculkan gerakan Pentakosta dan Karismatik yang membawa angin baru. Gerakan-gerakan itu membawa umat Tuhan masuk ke dalam pengalaman-pengalaman rohani yang menggairahkan.

BUKAN EMOSI

Namun di sisi lain, kekristenan juga bukan sekedar emosi keagamaan (religious emotion). Orang-orang karismatik terkadang menjadi nyentrik, aneh, dan ekstrem karena sangat emosional. Semuanya dirasa sebagai pengalaman supranatural. Ibaratnya, merinding sedikit saja dirasa sebagai kehadiran Roh Kudus. Sebentar-sebentar merasa mendengar suara Tuhan. Tangan dan tubuh selalu bergetar saat berdoa dan menyembah. Padahal, seringkali bersifat emosional saja.

PENGALAMAN NYATA

Prinsipnya, kekristenan adalah pengalaman rohani bersama Tuhan. Terasa atau tidak, terlihat atau tidak, spektakuler atau tidak, pengalaman itu sungguh nyata. Tuhan itu ada. Sorga dan neraka itu ada. Pengalaman rohani itu sifatnya spiritual namun juga merembes ke area empiris. Mujizat kesembuhan misalnya, sifatnya supranatural namun termanifestasi secara fisik. Tetapi, apa yang terjadi secara fisik (empiris) tidak semuanya berasal dari yang supranatural. Di sinilah kita harus peka dan bisa membeda-bedakan sehingga tidak terjebak menjadi emosional.

GAIRAH KRISTEN

Kekristenan akan menjadi bergairah manakala mengalami pengalaman illahi bersama Tuhan. Gereja pertama begitu bergelora setelah Roh Kudus dicurahkan (Kis 2). Jemaat bukan hanya bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (Kis 2:42), tetapi melihat dan merasakan sendiri bagaimana mujizat-mujizat dan tanda-tanda ajaib terjadi (Kis 2:43).

Tuhan kita bukan patung. Ia adalah Pribadi yang hidup. Dan, Alkitab menunjukkan bagaimana Tuhan rindu dan mau memberikan berbagai-bagai pengalaman rohani. Hal itu terlihat jelas dari bagaimana Ia merespon doa dan permohonan. Mujizat, urapan, kuasa, keajaiban-keajaiban diberikan Tuhan manakala kita sungguh-sungguh memintanya. Tuhan ingin supaya gereja-Nya bergairah, bersemangat, berkobar-kobar, menyata-nyala, dan giat melayani Tuhan.

B. IMAN & PENGALAMAN

Posted On September 24, 2009

Filed under B. IMAN & PENGALAMAN

Comments Dropped leave a response

TOMAS: PENGALAMAN MEMBUAHKAN IMAN

Injil Yohanes 20:25-29 mencatat demikian: Maka kata murid-murid lain kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Tomas mewakili orang Kristen yang rasional-empiris. Ia baru meyakini suatu kebenaran setelah mendapatkan bukti berupa fakta empiris. Jika tidak ada fakta yang terlihat-terasa-teraba dengan pancaindera (fakta empiris) maka tidak bisa percaya. Dengan demikian pengalaman rohani yang bersifat empiris itulah yang menumbuhkan imannya.

Yesus bisa mengerti jalan pikiran manusia seperti itu. Manusia memiliki akal budi dan mengembangkan rasionya yang bersifat ilmiah. Karena itu umat manusia bisa mengembangkan ilmu pengetahuan ilmiah yang sifatnya rasional-empiris. Yesus bisa memahami hal itu. Tetapi pesan-Nya, ”Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29)

Begitulah kekristenan masa kini. Pengalaman rohani tidak dapat dipungkiri akan mendongkrak iman. Banyak orang non Kristen yang bahkan ateis menjadi Kristen yang militan setelah mengalami pengalaman-pengalaman rohani. Di Cina, Denise Balcombe menyaksikan ribuan orang Komunis bertobat menjadi Kristen karena banyaknya mujizat ajaib yang terjadi di gereja-gereja bawah tanah yang terjadi di negeri tirai bambu itu.

Namun, orang tipe Tomas seperti itu seringkali lamban dalam bertumbuh. Kalau belum mengalami sesuatu maka belum mau percaya. Akibatnya orang Kristen mencari-cari pengalaman spektakuler supaya dapat percaya. Kalau tidak mengalami sesuatu maka belum menjadi percaya.

ABRAHAM: IMAN MEMBUAHKAN PENGALAMAN

Berbeda dengan Abraham. Paulus mencatat dalam surat Roma 4:18-21: Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.“ Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah itu ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Abraham mengalami mujizat kelahiran Ishak, anak perjanjian itu. Kelahiran anak itu benar-benar ajaib sebab Abraham dan Sara sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek. Dikatakan bahwa rahim Sara sudah tertutup. Artinya, itu sebuah kemustahilan.

Pengalaman mujizat tersebut lahir dari iman. Jadi, ini kebalikan dari Tomas (pengalaman membuahkan iman), sebab iman Abraham membuahkan pengalalaman (mujizat). Dan inilah yang benar, yang disebut “berbahagia“ oleh Yesus (Yoh 20:29). Kekristenan adalah kehidupan beriman yang membawa kita masuk ke dalam pengalaman-pengalaman rohani yang nyata.

IMAN MENGHASILKAN MUJIZAT

Prinsip Alkitab adalah, pertama, iman itu tumbuh dari Firman. Jadi, bukan dari pengalaman. Paulus menandaskan, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus“ (Rom 10:17). Itulah prosedur standar, yaitu dari Firman maka timbullah iman. Begitulah iman Abraham, iman yang percaya kepada Firman dan bukan kepada fakta empiris (sebab “tidak ada dasar untuk berharap“ – Rom 4:18).

Kedua, selanjutnya, iman itu membuahkan pengalaman. Dengan iman, mujizat menjadi kenyataan. Yesus menjelaskan prosedur itu, ”Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya” (Mrk 11:23).

Dari iman (keyakinan) maka terjadilah mujizat. Iman adalah preseden dari pengalaman. Hal itu terjadi pada kasus perempuan yang sakit pendarahan dalam Matius 9:21-22: Karena katanya dalam hatinya: ”Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh. Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, ”Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Pengalaan kesembuhan itu terjadi karena iman. Bukan sebaliknya, bukan beriman setelah sembuh, tetapi beriman dulu baru sembuh.

Dengan demikian, pengalaman-pengalaman rohani terjadi karena kita beriman. Semakin besar iman kita maka kita dimungkinkan mengalami hal-hal yang semakin besar pula. Tetapi, hal itu bukan berarti Tuhan terbatasi oleh iman kita. Tuhan bisa memberikan pengalaman-pengalaman sekalipun kita tidak atau kurang beriman. Bahkan Paulus yang semula anti Tuhan pun mendapatkan pengalaman ditemui Yesus saat ia sedang melancarkan tindakan anti iman (Kis 9:1-19a).

C. ALKITAB & PENGALAMAN

Posted On September 24, 2009

Filed under C. ALKITAB & PENGALAMAN

Comments Dropped leave a response

ALKITAB ITU TANPA SALAH

Banyak teolog Kristen, yang karena mengedepankan analisis rasional yang kritis, mulai tidak mempercayai kebenaran Alkitab. Sebuah kelompok yang terdiri dari 200 sarjana Alkitab ”liberal” yang menyebut diri mereka ”Seminar Yesus” telah mengadakan pertemuan kusus. Konferensi itu dimaksudkan untuk mencari konsensus tentang perkataan-perkataan Yesus yang mana yang dianggap otentik. Kesimpulan mereka, dari 700 lebih perkataan yang dinyatakan sebagai Firman Yesus dalam Injil, hanya 31 yang dianggap benar-benar otentik. Dan dari 31 itu, lebih dari 50 persen dianggap hanya merupakan pernyataan-pernyataan ganda dari kisah-kisah yang serupa.

Ketidakpercayaan akan kebenaran Alkitab juga mulai merasuki para mahasiswa seminari teologi. Pada 1976, Noel Wesley Hollyfield melakukan penelitian tentang kepercayaan para mahasiswa teologia tingkat S-2 (Master of Divinity dan Master of Theology) di sebuah seminari di Amerika Serikat. Untuk mahasiswa Master of Theology yang secara khusus mempelajari doktrin-doktrin Alkitab, hasilnya memprihatinkan. Mereka yang percaya Allah hanya 63%. Yang percaya keilahian Yesus hanya 63%. Yang percaya akan mujizat-mujizat dalam Alkitab hanya 37%. Yang percaya akan adanya kehidupan setelah kematian hanya 53%. Yang percaya bahwa Yesus benar-benar pernah berjalan di atas air hanya 22%.

Hal itu terjadi karena Alkitab dianggap seperti buku karya sastra lainnya. Bukan sebagai Firman Tuhan. Karena, menurut mereka, Alkitab adalah karya manusia sehingga pasti memiliki banyak kesalahan dan bahkan penyesatan. Itulah sebabnya mereka merekomendasikan teologi yang bersikap mengkritisi dan bahkan menjungkirbalikkan apa-apa yang ditulis di dalam Alkitab.

Alkitab itu benar adanya. Seperti yang ditandaskan Paulus dalam suratnya kepada Timotius, Alkitab itu bukan karya manusia. Alkitab memang ditulis oleh para nabi dan rasul. Namun, penulisan itu dilakukan dengan ilham dari Roh Kudus: ”Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, dan untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16). (2 Tim 3:16). Dengan demikian, Alkitab adalah Firman Tuhan tertulis yang tanpa salah (prinsip inerrancy).

MENGIMANI ALKITAB, MENGALAMI MUJIZAT

Mengapa janji-janji di dalam Alkitab tidak kita alami? Jawabannya adalah karena kita tidak mengimaninya. Jika kita mengimaninya, kita akan merindukannya dalam doa dan perbuatan-perbuatan. Sebagai contoh adalah janji tentang pengalaman dipenuhi Roh Kudus dan berkarunia bahasa roh.

Selama bertahun-tahun kekristenan tidak masuk dalam pengalaman Pentakosta seperti itu. Namun pada 1900, Charlex Fox Parham, pimpinan seminari Stone’s Folly di Topeka, Kansas, AS, meminta para mahasiswanya untuk belajar tentang Kitab Kisah Para Rasul. Dari pembelajaran itu, ditemukan janji tentang pencurahan Roh Kudus dan karunia bahasa lidah (bahasa roh). Dengan berbekal pengetahuan Alkitab akan hal itu, para mahasiswa melakukan doa puasa sampai akhirnya mengalami pengalaman supranatural itu. Ketika Parham berdoa, tiba-tiba seorang mahasiswa bernama Agnes Ozman dipenuhi Roh Kudus dan berbahasa roh. Lalu Roh Kudus juga menjamah mahasiswa-mahasiswa lainnya. Dari situlah gerakan Pentakosta modern menjalar sampai lahir gereja-gereja Pentakosta di seluruh dunia dewasa ini.

Demikian juga dengan janji-janji Alkitab lainnya. Karena orang-orang Karismatik percaya akan kebenaran tentang karunia-karunia Roh (1 Kor 12:7-11, dll), mereka pun masuk dalam pelayanan-pelayanan penuh karunia seperti itu. Sebaliknya, banyak gereja tidak mengalami pengalaman-pengalaman ajaib karena tidak mengimani janji-janji Firman Tuhan.

ALKITAB SEBAGAI BUKU PETUNJUK

Alkitab merupakan sebuah buku manual. Pertama, memberi petunjuk tentang pengalaman-pengalaman apa saja yang bisa diterima oleh anak-anak Tuhan. Hal itu karena Alkitab memuat janji-janji Tuhan yang jika diimani bisa menjadi kenyataan.

Kedua, Alkitab menjadi standar untuk menguji kebenaran dari pengalaman-pengalaman yang kita alami. Alkitab adalah batu penguji. Hal itu penting sebab tidak semua pengalaman yang bernuansa supranatural itu berasal dari Tuhan. Bisa saja hanya emosi manusiawi. Atau, malahan dari iblis. Mimpi misalnya, bisa saja dari kuasa gelap. Karena itu Paulus menekankan pentingnya pengujian (2 Tes 5:21).

Ada seorang hamba Tuhan besar bernama William Branham, yang disebut-sebut sebagai rasul besar kedua setelah Paulus, ternyata mengalami kejatuhan fatal. Pada masa akhir hayatnya Branham sempat menyampaikan ajaran-ajaran yang tidak Alkitabiah. Padahal ia banyak mengalami dan membawa orang dalam pengalaman-pengalaman ajaib (mujizat, kesembuhan, dll). Hal itu terjadi karena pengajaran dan pelayanannya tidak dikontrol oleh Alkitab.

D. AJARAN & PENGALAMAN

Posted On September 24, 2009

Filed under D. AJARAN & PENGALAMAN

Comments Dropped leave a response

JANGAN MENDOKTRINKAN PENGALAMAN

Kesalahan yang seringkali dilakukan hamba-hamba Tuhan adalah mendoktrinkan pengalaman rohani yang sifatnya subyektif. Pengajaran yang disampaikannya tidak bertolak dari Alkitab, namun dari pengalaman pribadi. Pengalaman rohani itu berbeda-beda, tidak bisa digeneralisir. Karena itu tidak bisa dijadikan patokan (pakem) ajaran.

Pendoktrinan pengalaman telah menyebabkan kekristenan terjebak pada ajaran-ajaran yang tidak alkitabiah. Meskipun kebanyakan terkait masalah praktis, namun menjadi tidak cermat karena tidak Alkitabiah. Sebagai contoh adalah ajaran bahwa orang yang dipenuhi Roh Kudus selalu berbahasa roh. Alkitab tidak mengidentikkan antara keduanya. Namun karena hamba Tuhan yang mengajarkannya mengalami demikian maka ia pun mengajarkan prinsip itu. Contoh lain adalah, kelepasan selalu disertai dengan manifestasi fisik dari setan-setan yang keluar. Sehingga ketika seseorang yang didoakan belum mengalami manifestasi-manifestasi semacam itu maka dianggap belum lepas dari ikatan setan-setan. Yang lain mengajarkan bahwa orang akan ”tumbang dalam roh” ketika Roh Kudus hadir. Akibatnya, para hamba Tuhan bukan hanya ”menumpangkan tangan” tetapi mendorong-dorong supaya yang didoakan rebah ke lantai. Ada yang mengajarkan prinsip mujizat pasti terjadi dengan instan. Sehingga, mereka yang tidak mengalami mujizat instan saat ikut KKR dianggap kurang beriman dan belum dilawati Tuhan. Ada pula yang menegaskan bahwa diurapi Roh Kudus sama dengan diberkati untuk menjadi kaya. Jika kita masih miskin maka dinilai belum diurapi oleh Roh Kudus.

Hal-hal yang bersifat praktis dalam pelayanan tidak dipolakan atau didontrinkan oleh Alkitab itu sendiri. Dalam mendoakan orang sakit misalnya, bisa memakai minyak (Yak 5:14). Tetapi, dalam pelayanan Paulus sendiri, saputangannya dipakai untuk mengalirkan kuasa kesembuhan (Kis 19:12). Sementara itu, orang-orang sakit menjadi sembuh hanya karena terkena bayang-bayang Petrus. Jadi, tidak ada pola tetap dan tidak ada pengalaman praktis yang dijadikan pola tertentu.

AJARAN HARUS ALKITABIAH

Prinsipnya, ajaran Kristen harus bersumber pada Alkitab (Alkitabiah). Ajaran Kristen diturunkan dari penafsiran literal atas Alkitab yang dipercaya sebagai Firman Tuhan tanpa salah. Ide mengenai pokok ajaran dan poin-poinnya bisa saja dicetuskan oleh Roh Kudus pada saat kita menggali pelajaran. Tetapi setiap ”pewahyuan” dari Roh Kudus pasti sejalan dengan Alkitab. Dengan demikian Alkitab menjadi standar acuan yang tidak boleh ditinggalkan.

Kesesatan dan penyesatan dimulai ketika kita meninggalkan Alkitab. Hal itulah yang dialami oleh William Marion Branham (1909-1965). Ia adalah seorang pengkotbah kesembuhan illahi yang pelayanannya bersifat nabiah. Ia sering mendengar suara Roh Kudus dan menerima pewahyuan-pewahyuan. Namun, selama melayani ia didampingi oleh Gordon Lindsay yang ahli dalam pelajaran teologi Alkitab. Ketika Branham tidak mau lagi didampingi oleh Linday karena merasa dirinya lebih pintar, jatuhlah ia dalam berbagai-bagai pelajaran sesat. Bahkan ia mengajarkan bahwa wanita itu hanyalah produk sampingan dari pria dan merupakan benih dari si ular!

WASPADAI: EXEGESIS ATAU EISEGESIS?

Untuk menilai sebuah pemikiran (konsep, teori, metode, dan lain-lain), kita harus melihat kadar Alkitabiah-nya. Kita harus mengkritisi setiap pemikiran yang ditawarkan oleh dunia ini. Tidak semua pemikiran itu sejalan dengan Firman Tuhan.

Dalam ilmu tafsir Alkitab, dikenal istilah exegesis dan eisegesis. Dalam exegesis, kita menggali pemikiran-pemikiran dari dalam Alkitab itu sendiri. Kita berusaha merekonstruksi pemikiran-pemikiran penulis Alkitab tersebut secara murni, tanpa menambahkan pemikiran-pemikiran kita sendiri. Kalau si penafsir menambahkan ide-ide dari luar Alkitab untuk menafsirkan Alkitab, itu bukan exegesis tetapi eisegesis.

Yang sering terjadi saat ini adalah proses eisegesis. Kita memasukkan teori-teori psikologi atau teori-teori ilmu ekonomi atau sosiologi dalam menafsirkan Alkitab. Atau kita memasukkan pengalaman-pengalaman subyektif. Akibatnya, kita melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang tidak Alkitabiah. Gagasan-gagasan yang muncul adalah pikiran campur aduk. Terkadang, kita memaksakan ide dari luar sedemikian rupa sehingga ’memperkosa’ ayat-ayat Alkitab.

Orang Kristen masa kini seringkali terjebak dalam praksis yang tidak mendalam. Para pengkotbah berbicara, misalnya, tentang 7 langkah meraih sukses. Buku-buku dan seminar-seminar ”how to” semacam itu berkembang begitu pesat. Kadang-kadang, bahkan seringkali, langlah-langkah itu tidak dikaji secama mendalam. Jemaat hanya mau menikmati hasil secara cepat, tanpa mau tahu bagaimana kebenaran dari langkah-langkah itu. Sementara itu, demi menarik perhatian, para pengkotbah mencomot pemikiran-pemikiran dari luar Alkitab untuk meramu menu kotbahnya.

Teologi ”kemakmuran” menambah runyam pragmatisme semacam ini. Pembicara membius batin jemaat dengan tips-tips praktis cepat saji. Taktik-taktik praktis diberikan tanpa kajian teologis yang mendalam. Sampai-sampai tidak bisa dibedakan antara Alkitab dan Psikologi. Para pendeta menjelma menjadi ahli-ahli motivasi tak ubahnya para motivator sukses di bidang manajemen dan bisnis.

Demikian juga dalam masalah pengembangan intelektualitas, kita harus mewaspadai metode-metode pengembangan diri yang ada. Jangan asal ikut arus. Jangan tergiur dengan ide-ide baru yang bombastis. Alkitab adalah Kebenaran. Firman Tuhan yang mengatasi segala kecanggihan pikiran manusia. Ide-ide dari luar Alkitab tidak bisa ditelan mentah-mentah begitu saja. Kita harus selektif.

E. PERTUMBUHAN ROHANI

Posted On September 24, 2009

Filed under E. PERTUMBUHAN ROHANI

Comments Dropped leave a response

PENGALAMAN TIDAK IDENTIK DENGAN PERTUMBUHAN

Mengalami banyak pengalaman rohani tidak selalu berarti bertumbuh secara rohani. Bangsa Israel misalya, mengalami berbagai-bagai mujizat ajaib. Mereka telah melihat sendiri bagaimana Tuhan menurunkan tulah-tulah atas bangsa Mesir yang jahat itu. Mereka mengalami mujizat menyeberangi laut Teberau yang dikeringkan oleh Tuhan. Mereka melihat dan merasakan sendiri bagaimana Tuhan hadir dalam tiang awan dan tiang api. Makanan mereka pun diturunkan dari langit secara ajaib. Namun, Israel tetap menjadi bangsa yang tegar tengkuk dan keras kepala. Artinya, tidak bertumbuh secara rohani. Bahkan ketika tantangan datang, mereka ingin kembali ke Mesir untuk menjalani “kehidupan lama” mereka!

Dalam pelayanan, Yesus pernah didatangi oleh 10 orang kusta (Luk 17:11-19). Semuanya mengalami mujizat kesembuhan karena belas kasihan Kristus. Namun, hanya seorang yang kembali untuk memuliakan Tuhan (Luk 17:18). Artinya, mengalami mujizat kesembuhan tidak secara otomatis membuat orang bertumbuh (bertobat, memuliakan Tuhan, mengikut Kristus, dst).

MAKIN “BERTUMBUH” MAKIN “MENGALAMI”

Namun, sebaliknya, pertumbuhan rohani akan membawa kita masuk dalam berbagai-bagai pengalaman bersama Tuhan. Ketika kita semakin tekun mencari Tuhan, pengalaman-pengalaman indah dan ajaib bersama Tuhan akan diberikan. Ketika kita semakin suci, semakin kudus, semakin hidup benar maka pengalalaman-pengalaman dari Tuhan yang diterima semakin besar dan luar biasa.

Bertumbuh dalam kesetiaan pelayanan misalnya, akan membawa kita ke dalam pengalaman-pengalaman pelayanan yang semakin dahsyat. Pada awalnya, Paulus hanya bersaksi ke sana ke mari. Namun karena kesetiaannya, Roh Kudus mengurapinya semakin dahsyat. Karunia-karunia illahi diberikan Tuhan kepadanya. Bahkan akhirnya ia masuk dalam bilangan para rasul Kristus.

PENGALAMAN SEBAGAI MEDIA BELAJAR

Karena itu, yang penting bukan sekedar pengalamannya, namun pertumbuhannya. Tuhan tidak pernah memberikan mujizat pengalaman tanpa maksud tertentu. Makanya kata untuk “mujizat” dalam PB dipakai “semeion” yang bearti peristiwa penuh makna dan tujuan tertentu (lihat lebih jauh di www.mujizatajaib.wordpress.com). Pengalaman mujizat diberikan Tuhan dengan maksud tertentu, yaitu supaya kita yang mengalaminya semakin bertumbuh ke arah Kristus.

Perhatikan peristiwa Yesus berjalan di atas air (Mat 14:22-33). Waktu itu perahu para murid terombang-ambing. Dalam pertolongan yang diberikan, para murid mengalami beberapa pengalaman rohani. Pertama, mereka melihat kehadiran Tuhan secara supranatural sehingga mereka sempat mengira Yesus sebagai hantu (ayat 26). Kedua, mereka melihat demonstrasi kuasa Yesus, yaitu ketika Yesus berjalan di atas air untuk menunjukkan keilahian diri-Nya (ayat 26-27). Ketiga, Petrus turut mengalami berjalan di atas air meskipun gagal di tengah jalan (ayat 29-30). Keempat, mereka mengalami mujizat berhentinya badai secara ajaib (ayat 32).

Peristiwa itu hanya sekedar menjadi pengalaman masa lalu jika mereka (para murid) tidak pernah menarik pelajaran apa-apa dari peristiwa tersebut. Sespektakuler apapun pengalaman itu hanya akan menjadi bahan dongengan anak cucu jika kita tidak menarik hikmah dan pelajaran daripadanya. Adapun Yesus, selalu memberikan pelajaran rohani lewat setiap pengalaman yang diberikan-Nya. Dalam konteks peristiwa itu, Yesus mengajar tentang iman (ayat 31).

Banyak orang mengalami hal-hal ajaib tetapi tidak pernah bertumbuh secara rohani karena tidak mau belajar sesuatu dari pengalaman-pengalaman itu.

MENGALAMI TANPA BERTUMBUH = BERBAHAYA

Pengalaman rohani tanpa dibarengi dengan pertumbuhan rohani bisa menjadi sangat berbahaya. Misalnya jika kita mengalami dilepaskan dari roh-roh jahat, namun tidak bertumbuh secara rohani, maka roh-roh jahat itu bisa masuk lagi dan membuat keadaan kita lebih parah.

Hal itu dijelaskan Yesus dalam Injil Matius 12:43-45 sebagai berikut: “Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatkannya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong bersih tersapi dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.”

AWAS! PENGALAMAN ROHANI MENJADI ENTERTAINMENT!

Ketika kekristenan menonjolkan pengalaman spektakuler tanpa menekankan pertumbuhan maka kekristenan itu menjadi sebuah hiburan/entertainment rohani. KKR-KKR menjadi tontonan. Kita senang “berhura-hura” dalam pengalaman-pengalaman emosional (menari dalam roh, tumbang, tubuh bergetar, dst) tanpa bertumbuh secara rohani. Orang-orang Kristen hanya senang hangar-bingarnya saja. Dan merasa sudah bertumbuh setelah mengalami ini dan itu.

Di dunia sekuler, pengalaman-pengalaman supranatural menjadi tontonan. Beberapa program televise jelas-jelas mengekspos hal-hal seperti itu, bahkan dalam bentuk reality show. Acara-acara yang bersifat magis menjadi tayangan-tayangan favorit. Sementara film-film horror tidak pernah sepi penonton.

AWAS! PENGALAMAN MENJADI KESOMBONGAN

Kekristenan yang menekankan pengalaman tanpa pertumbuhan akan menjadi sombong. Sehingga, cenderung menghakimi orang-orang lain yang dianggapnya kurang berpengalaman.

Demikian juga para hamba Tuhan bisa menjadi sombong. Karena mereka merasa bisa membawa jemaat dijamah Roh Kudus dan mengalami mujizat-mujizat, mereka merasa menjadi orang-orang yang paling diurapi dan sangat hebat. Mereka tidak menghargai pelayanan-pelayanan lain yang menurut mereka kurang bernuansa spiritual. Mereka juga meninggikan diri karena merasa memiliki karunia-karunia supranatural.

F. KERINDUAN

Posted On September 24, 2009

Filed under F. KERINDUAN

Comments Dropped leave a response

MEMINTA, MENCARI, MENGETOK

Pengalaman Kristen adalah pengalaman bersama Tuhan (Roh Kudus) dalam perjalanan hidup mengiring Kristus. Yesus mengajarkan bahwa pengalaman dengan Roh Kudus itu diperoleh jika kita meminta, mencari, dan mengetok untuk mendapatkannya. Injil Lukas 11:9-13 mencatat ajaran Yesus sebagai berikut: Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan daripadanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan ROH KUDUS kepada mereka yang meninta kepada-Nya.”

Itulah sebabnya ada orang-orang Kristen yang mengalami banyak pengalaman bersama Roh Kudus dan ada yang tidak. Ada yang kekristenannya biasa-biasa saja tanpa diwarnai banyak pengalaman rohani. Hal itu terjadi sesuai dengan “tingkat kerinduan”  kita. Mengapa orang-orang Pentakosta banyak mengalami Roh Kudus? Karena mereka, saat menjelang peringatan hari Pentakosta saja, berdoa puasa 10 hari. Mengapa orang-orang Karismatik mengalami banyak pengalaman bersama Roh Kudus? Ya, karena mereka sangat haus dan lapar akan perkara-perkara rohani.

Hal itu juga menunjukkan bahwa Tuhan tidak memaksa orang untuk mengalami diri-Nya dan mengalami perkara-perkara rohani bersama-Nya. Perhatikan peristiwa Yesus berjalan di atas air (Mat 14:22-33). Ada murid-murid yang bersikap pasif. Mereka memilih duduk termangu di dalam perahu. Tetapi, ada Petrus yang begitu antusias. Petrus mendambakan mujizat. Petrus meminta kepada Yesus supaya bisa berjalan di atas air. Apa yang terjadi kemudian? Yesus sungguh-sungguh membawa Petrus ke dalam pengalaman mujizat berjalan di atas air. Kepada murid-murid yang lain, Yesus tidak memarahi. Namun Yesus juga tidak memberikan pengalaman rohani yang lebih bagi mereka.

GEREJA PERTAMA

Pencurahan Roh Kudus yang terjadi di gereja pertama juga terjadi karena kerinduan para murid mengenai pengalaman tersebut. Dicatat oleh Lukas bahwa mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama (Kis 1:14).

Yesus sendiri, sebelum naik ke sorga, berpesan supaya para murid jangan lekas pergi. Mereka harus bertekun untuk menantikan janji tentang Roh Kudus itu (Kis 1:4). Artinya, janji tentang pengalaman bersama Roh Kudus itu tidak sekedar diberikan begitu saja, namun menuntut sebuah kerinduan dan ketekunan dari sisi kita.

DESAKAN IMAN

Orang-orang yang mengalami pengalaman mujizat dan kesembuhan selama pelayanan Yesus pada dasarnya adalah orang-orang yang antusias secara rohani. Mereka mendesak Tuhan dengan iman mereka. Mereka adalah para “pemburu Tuhan” yang berjuang secara rohani. Berikut ini adalah beberapa catatan tentang mereka.

Perjuangan seorang perempuan yang sakit pendarahan (Mat 9:20-22): Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah 12 tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.”

Perjuangan seorang perempuan Kanaan (Mat 15:22-28): Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah Aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita. Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak. Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Kedua wanita di atas adalah para pejuang iman. Mereka bukan hanya berdiri di atas iman mereka yang teguh. Mereka melakukan “desakan iman” yang intensif. Mereka tidak berputus asa. Mereka berjuang menembus ketidakmungkinan. Mereka bahkan tetap “ngotot” sekalipun Yesus seolah tidak antusias untuk langsung menolong mereka. Dengan kerinduan semacam itulah kita akan menerima pengalaman-pengalaman dari Tuhan.

TOKOH-TOKOH MASA KINI

Kita mengenal Charles Grandson Finney sebagai tokoh kebangunan rohani yang besar pada masa silam. Namun, ia bisa melakukan pelayanan dahsyat seperti itu karena memiliki kerinduan rohani yang sangat besar. Saat muda, ia pergi masuk ke hutan dan tinggal di sana selama berhari-hari. Di dalam kegelapan hutan itu ia berdoa dan berseru-seru memohon kuasa Roh Kudus, sampai akhirnya mengalami kepenuhan Roh. Baru setelah itu ia tampil menjadi pengkotbah yang sangat diurapi

George Whitefield berkotbah 18.000 kali selama pelayanannya. Kotbah-kotbahnya memicu kebangunan-kebangunan rohani raksasa. Ia bisa mengalami pelayanan dahsyat dan membawa banyak jiwa ke dalam pengalaman bersama Tuhan karena ia memiliki kerinduan rohani yang sangat luar biasa. Saat muda ia berpuasa selama berminggu-minggu sampai mengalami sakit dan lemah fisik selama berbulan-bulan. Namun, meski tubuhnya semakin melemah, rohnya semakin kuat.

G. KEWASPADAAN

Posted On September 24, 2009

Filed under G. KEWASPADAAN

Comments Dropped leave a response

SELALU MENGUJI

Paulus mengatakan, “Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang bak” (1 Tes 5:19-21). Pertama, jangan membatasi pekeraan Roh Kudus. Bebaskan Dia berkerja dan bergerak. Kedua, jangan menganggap rendah karunia-karunia Roh, termasuk pengalaman-pengalaman rohani dari Tuhan. Ketiga, segala sesuatu harus diuji. Setiap pernyataan dan pengalaman supranatural harus dicek kesahihannya menurut Alkitab.

Perintah untuk menguji itu menunjukkan fakta bahwa tidak semua pelayanan dan pengalaman rohani berasal dari Tuhan. Banyak pengalaman yang sepertinya memukau ternyata bersifat manusiawi. Makanya ada yang disebut “rekayasa psikologi”. Dan, ada banyak pengalaman yang bersifat satanis, berasal dan dikerjakan oleh setan-setan.

MUJIZAT-MUJIZAT PALSU

Lihat lebih jauh di www.mujizatajaib.wordpress.com

Ciri-ciri mujizat palsu adalah, pertama, tanpa arti atau makna rohani yang membawa kita semakin memahami Tuhan dan Firman-Nya. Dalam Perjanjian Baru, untuk kata mujizat (miracles) dipakai kata semeion yang berarti perbuatan Tuhan yang penuh makna (Yoh 2:12; 3:2; Kis 8:6). Tuhan tidak pernah membuat mujizat sebagai tontonan seperti yang dilakukan tukang sulap. Mujizat-mujizat-Nya selalu mengandung rencana Tuhan, kehendak Tuhan, pelajaran Alkitabiah, hikmah rohani yang membawa kita semakin dekat dengan Tuhan. Makanya, para pesulap di televisi mencoba membubuhkan pelajaran atau hikmah di balik atraksi-atraksi sulapnya supaya tampak seolah-olah penuh makna dan edukatif (edutainment).

Kedua, mujizat palsu bisa saja sangat ajaib, tetapi dilakukan untuk membawa orang menyembah allah lain selain Yesus Kristus. Kitab suci mengingatkan: Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu, sebab Tuhan, Allahmu mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. (Ul 13:1-3).

Ketiga, mujizat palsu dilakukan oleh orang-orang jahat, sekalipun mereka mengaku memakai nama Yesus dan melayani Kristus. Yesus memperingatkan bahwa orang-orang semacam itu akan ditolak di akhir jaman karena mereka adalah para pembuat kejahatan (Mat 7:22-23).

Keempat, mujizat palsu dilakukan oleh Iblis dan para pengikutnya (termasuk dukun-dukun, paranormal, tukang sihir, tukang tenung, dan seterusnya). Paulus mengingatkan: Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu (2 Tes 2:9). Ketika Tuhan dan para hamba-Nya menyatakan mujizat-mujizat maka Iblis dan tukang-tukang sihir (dan para penganut setan lainnya) membuat mujizat-mujizat palsu untuk menandinginya. Hal itu terjadi ketika Musa menyatakan mujizat-mujizat dengan togkatnya, saat itu para ahli sihir Firaun pun menandinginya (Kel 7:1-12). Itulah yang terjadi sekarang, banyak pesulap, tukang sihir, dan sebagainya melakukan mujizat-mujizat palsu. Ketika di KKR Roh Kudus menjamah jemaat sehingga tumbang dalam Roh, para pesulap pun menghipnotis para penonton sehingga tumbang dan tak sadarkan diri. Bahkan ada pula pesulap yang berjalan di atas air untuk menandingi Yesus.

H. INDIVIDUAL & KORPORAT

Posted On September 24, 2009

Filed under H. INDIVIDUAL & KORPORAT

Comments Dropped leave a response

PENGALAMAN INDIVIDUAL

Kekristenan adalah hubungan pribadi bersama Tuhan. Karena itu, kita bisa dan akan mengalami pengalaman-pengalaman pribadi bersama Tuhan. Ini menunjukkan kemahahadiran Tuhan. Ia bisa menjamah dan mendiami serta memenuhi setiap anak-Nya. Ia menyatakan kasih dan kuasa-Nya pada setiap anak Tuhan, pribadi lepas pribadi.

Karena itu pengalaman rohani sifatnya bisa sangat subyektif. Kepada yang seorang Tuhan menyatakan diri dengan cara ini dan kepada yang lain dengan cara itu. Pengalaman pribadi tidak bisa didoktrinkan dan tidak bisa digeneralisir.

Sekalipun demikian, setiap pengalaman pribadi yang masing-masing unik itu harus bersesuaian dengan Alkitab (Firman Tuhan). Kita tidak bisa dengan alasan ”ini pengalaman pribadi” membenarkan pengalaman-pengalaman rohani yang tidak Alkitabiah. Betapa pun uniknya pengalaman rohani masing-masing harus berpadanan dengan Alkitab. Karena itu, dengan meninjau dari pandangan Alkitab, kita dapat membuat patokan-patokan atau rambu-rambu umum mengenai pengalaman-pengalaman rohani tersebut.

PENGALAMAN KORPORAT

Tuhan akan hadir dalam persekutuan. Yesus menjanjikan, ”Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Dengan demikian, kita dapat secara bersama-sama (korporat) mengalami pengalaman-pengalaman bersama Tuhan.

Sebagai contoh yang gamblang adalah dalam peristiwa doa bersama atau ibadah. Saat Pentakosta, jemaat secara korporat mengalami pengalaman pencurahan Roh Kudus itu bersama-sama.

Lukas mencatat dalam kitab Kisah Para Rasul 2:1-13 sebagai berikut: Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka, lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: ”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: ”Apakah artinya ini?” Tetapi orang lain menyindir: ”Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”

Jangan dipikir bahwa peristiwa Pentakosta semacam itu hanya terjadi dulu. Sampai sekarang pun terjadi. Bahkan semakin intens menjelang akhir jaman. Di sebuah gereja Protestan di Soe, Nusa Tenggara Timur, pernah terjadi peristiwa pengalaman supranatural korporat semacam itu pada sekutar 1965.

Berikut adalah catatan Mel Tari dalam buku ”Bagaikan Angin Badai” halaman 29-30: Pada malam itu ketika kami sedang berdoa bersama, tiba-tiba Roh Kudus datang seperti yang terjadi pada hari Pentakosta. Dalam Kis 2 kita membaca bahwa Dia datang seperti tiupan angin keras. Dan malam itu, pada saat sedang duduk di sebelah kakak perempuan saya, saya mendengar tiupan angin keras ini. Suaranya seperti tiupan angin topan kecil. Saya melihat di sekeliling saya dan tidak melihat apa-apa. Saya menoleh kepada kakak perempuan saya. ”Kak, apakah engkau mendengar suatu suara aneh?” tanya saya. ”Ya,” jawabnya, ”saya mendengarnya. Tetapi lupakanlah tentang suara itu, dan mari kita berdoa saja.” Dia mulai berdoa dan pada saat yang sama saya mendengar banyak yang lainnya juga mulai berdoa. Anda harus mengetahui bahwa di gereja kami, kami berdoa dalam urutan tertentu, satu demi satu. Satu orang berdoa di gereja kami sudah cukup karena semuanya telah ditulis pada sehelai kertas yang terletak di hadapan kami. Kalau semua harus berdoa, kami harus menulis seluruh doa itu. Tetapi malam itu, orang-orang di gereja kami mulai melupakan urutan yang sudah tertulis dan doa di depan mereka dan mulai berdoa di dalam Roh Kudus. Mula-mula satu demi satu, dan sebelum saya menyadarinya, ternyata mereka semua berdoa bersama-sama secara serentak. ”Oh Yesusku, apa yang terjadi di gereja ini? Mereka sudah melupakan urutan yang tertulis itu,” kata saya. Kemudian saya mendengar lonceng tanda kebakaran berbunyi dengan keras. Di seberang gereja ada kantor polisi dan lonceng kebakaran. Seseorang di kantor polisi melihat bahwa gereja kami terbakar, maka dia membunyikan bel untuk memberitahu orang-orang desa supaya cepat datang karena ada kebakaran. Di Indonesia, terutama di Timor (pada 1965-an), kami tidak mempunyai mobil pemadan kebakaran. Kami hanya membunyikan lonceng kebakaran dan orang-orang langsung mengerti bahwa ada kebakaran dan mereka akan datang dari seluruh pelosok desa membawa ember-ember berisi air dan benda-benda lainnya untuk membantu memadamkan api. Ketika sampai di gereja, mereka memang melihat nyala api, tetapi gereja kami tidak terbakar, Api yang menyala bukanlah api biasa melainkan api dari Tuhan. Karena itu banyak orang menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi mereka dan menerima baptisan Roh Kudus.

I. KESELAMATAN

Posted On September 24, 2009

Filed under I. KESELAMATAN

Comments Dropped leave a response

ORANG BERTOBAT KARENA ROH KUDUS

Orang bisa bertobat, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat karena Roh Kudus menginsafkan kita akan dosa (Yoh 16:8-11). Jadi bukan karena dipaksa-paksa atau diintimidasi. Penginjilan yang karena rekayasa seperti itu tidak sesuai dengan Alkitab dan tidak dikerjakan oleh Roh Kudus namun oleh kekuatan manusia.

Paulus bisa bertobat karena dijamah Roh Kudus. Dalam kasus ini, pengalaman yang diterima Paulus sangat spektakuler (Kis 9:1-5): Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa daripadanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem. Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ”Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: ”Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: ”Akulah Yesus yang kau aniaya itu.”

Pertobatan 3.000 orang pada awal pertumbuhan gereja pertama (Kis 2:41) bukan karena emosi sesaat. Bukan pula karena paksaan. Dan, bukan karena hebatnya kotbah Petrus (Kis 2:14-40). Namun, karena jamahan Roh Kudus yang bekerja melalui pelayanan mimbar Petrus.

Pertobatan kepala penjara dan keluarganya pada suatu peristiwa di Filipi (Kis 16:31-33) juga karena pekerjaan Roh Kudus. Mereka bertobat bukan karena ketakutan setelah terjadi gempa bumi hebat. Kepala penjara bertobat juga tidak karena takut kalau-kalau para pesakitan itu lari semua. Memang, dua hal itu menjadi preseden pertobatannya. Tetapi, di balik semua itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Sebab, gempa itu terjadi setelah Paulus dan Silas berdoa (Kis 16:25-26). Peter Wagner menyebutnya sebagai ”unusual earthquake” karena merupakan manifestasi dahsyat kuasa Tuhan. Roh Kudus bekerja sedemikian rupa secara spektakuler untuk menyadarkan orang-orang sehingga bertobat dan memberi diri untuk dibaptis.

Jadi, proses keselamatan adalah proses pengalaman supranatural. Pertobatan Kristen bukan bagian dari tradisi agamawi atau proses seremoni. Pertobatan Kristen, disadari atau tidak, terjadi karena lawatan Roh Kudus.

LAHIR BARU SEBAGAI PROSES SUPRANATURAL

Keselamatan pada intinya adalah proses di mana Roh Kudus melahirkan baru, yaitu menjadikan manusia sebuah kodrat baru karena percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi (Tit 3:5). Penciptaan baru itu sepenuhnya merupakan proses supranatural. Baik terasa secara spektakuler atau biasa-biasa saja, itu merupakan kejadian yang bersifat illahi.

Karena itu, ‘profesor’ Nikodemus tidak paham. Katanya kepada Yesus, ”Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (Yoh 3:4). Nikodemus melihatnya secara rasional. Sedangkan proses yang dijelaskan oleh Yesus adalah proses yang sifatnya adikodrati. Demikianlah hal itu menandaskan bahwa keselamatan adalah peristiwa dan proses yang pada hakikatnya merupakan pengalaman supranatural.

Ev. Eddy Ferdinand mempunyai pengalaman suparnatural yang cukup spektakuler saat menerima keselamatan. Pada waktu dituntun untuk berdoa menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia melihat sekelilingnya menjadi merah darah. Ia sadar bahwa kuasa darah Yesus dicurahkan baginya untuk menebus dirinya. Kemudian, saat dituntun untuk mengucapkan kata-kata ”sekarang, aku membuka hati dan mengundang Yesus masuk dalam hati”, tiba-tiba mulutnya seperti terkatupkan. Ia tidak bisa memanjatkan doa itu karena roh-roh jahat yang mengikatnya berusaha menahannya. Baru setelah hamba-hamba Tuhan mengusir roh-roh jahat itu, Eddy bisa mengucapkan doa itu dengan leluasa. Demikianlah akhirnya ia mengalami kelahiran baru dan bertumbuh dalam Roh Kudus. Sekarang Tuhan memakainya sebagai pengkotbah dan juga pemimpin pujian.

Ketika Adi S menerima Yesus dan dibaptiskan, sesuatu yang supranatural terjadi. Dalam kolam baptisan itu, saat dibaptis, ia dan beberapa orang melihat ada mahkluk-mahkluk supranatural keluar dari tubuhnya. Hal itu terjadi karena sebelum hidup sungguh-sungguh dalam Tuhan, ia mempunyai keterikatan dengan roh-roh jahat. Setelah menerima Yesus secara pribadi dan dibaptiskan, Adi bertumbuh dalam kepenuhan Roh Kudus dan dipakai menjadi alat Tuhan yang luar biasa.

J. KELEPASAN

Posted On September 24, 2009

Filed under J. KELEPASAN

Comments Dropped leave a response

MANUSIA SEPERTI RUMAH

Lihat juga www.smartforchrist.wordpress.com category ”menang atas setan”

Yesus menjelaskan dengan gamblang bagaimana manusia bisa dikuasai setan (Mat 12:43-45): ”Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersir tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” Penjelasan itu memberikan beberapa poin penting, pertama, manusia itu seperti sebuah rumah. Kedua, iblis dapat masuk, tinggal, dan menguasai rumah itu. Iblis dapat diusir keluar dari rumah itu (Mrk 16:17; Yak 4:7). Ketiga, iblis akan masuk kembali dan merebut manusia itu kembali karena memang ingin menghancurkan manusia (Yoh 10:10). Keempat, maka rumah itu jangan dibiarkan kosong, harus diisi dengan Penghuni baru (Roh Kudus) sehingga manusia percaya menjadi rumah Tuhan, Bait Roh Kudus (1 Kor 6:19)

PROSES KELEPASAN

Masuknya roh jahat dalam diri manusia pada prinsipnya adalah peristiwa dan proses supranatural. Hanya saja acapkali tidak disadari. Dengan demikian, pengusirannya keluar dari diri kita juga merupakan peristiwa dan proses adikodrati meskipun tidak selalu spektakuler.

Alkitab mencatat kasus-kasus kelepasan dari roh-roh jahat yang ditandai dengan manifestasi-manifestasi yang terlihat dan terasa secara fisik. Orang yang dilayani pelepasan (pengusiran setan) oleh Yesus maupun para murid mengalami menifestasi fisik seperti berteriak, muntah-muntah, tubuh berguncang, dan sebagainya.

Kasus kelepasan seorang anak yang bisu (Mrk 9:25-27): Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat (yang menguasai anak) itu dengan keras, kata-Nya: ”Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: ”Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.

Roh jahat yang menguasai orang yang dilayani kelepasan juga bisa berbicara lewat mulut orang yang dirasukinya itu.

Kasus kelepasan orang di rumah ibadat di Kapernaum (Mrk 1:23-26; Luk 4:31-37): Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seseorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: ”Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nasaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: ”Diam, keluarlah daripadanya (dari orang yang dirasukinya)!” Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit  dengan suara nyaring ia keluar daripadanya.

Kasus kelepasan massal dalam pelayanan Filipus (Kis 8:7): Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan.

Ketika dulu penulis dilayani kelepasan, sungguh tidak mengira kalau akan mengalami manifestasi-manifestasi seperti itu. Saat diajak memuji dan menyembah Tuhan, penulis merasakan biasa-biasa saja. Namun ketika para hamba Tuhan menumpangkan tangan mereka di kepala penulis, terjadi manifestasi dahsyat. Meskipun masih dalam keadaan sadar, namun tak bisa mengendalikan fisik, penulis roboh ke lantai. Tangan dan tubuh penulis bergetar dan bergoncang dengan hebatnya. Lalu ketika para hamba Tuhan memerintahkan roh-roh jahat itu pergi, roh-roh jahat itu keluar dari tubuh penulis secara supranatural. Saat proses kelepasan itu, seperti ada yang meletup keluar dari perut dan dada sehingga penulis berteriak nyaring dan kemudian muntah-muntah dengan hebatnya. Setelah reda dan setan-setan diusir semuanya, penulis mengalami kelegaan yang sangat luar biasa. Lalu merasakan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Penulis diliputi suasana batin yang penuh cinta kepada Kristus dan berkobar-kobar karena Roh Kudus! Believe it of not!

Next Page »
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.