N. DOA

Posted On September 24, 2009

Filed under N. DOA

Comments Dropped leave a response

DOA = DIALOG INTERAKTIF

Sebelum bencana ”natural-supranatural” berupa hujan api dan belerang membumihanguskan kota Sodom dan Gomora, Abraham sudah menaikkan doa syafaat untuk segenap penduduk kota itu. Doa syafaat Abraham adalah memperjuangkan nasib kota itu supaya diampuni oleh Tuhan. Abraham memohonkan belas kasihan. Dalam syafaat itu, terjadi proses doa dialogis berupa tawar-menawar antara Tuhan dan Abraham seperti di bawah ini (Kej 18:24-32).

Abraham: ”Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya?”

Tuhan: ”Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.”

Abraham: ”Sekiranya kurang lima dari lima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?”

Tuhan: ”Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh loma di sana.”

Abraham: ”Sekiranya empat puluh didapati di sana?”

Tuhan: ”Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu.”

Abraham: ”Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana?”

Tuhan: ”Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh di sana.”

Abraham: ”Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana?”

Tuhan: ”Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu.”

Abraham: ”Jangan kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?”

Tuhan: ”Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu?”

Sayangnya, sekalipun Abraham sudah menawar sampai pada titik yang cukup rendah, kuota tetap tidak terpenuhi. Hanya ada empat orang yang masuk kategori orang benar di sana, Lot, istri, dan kedua anaknya. Itu pun tereliminasi seorang, istri Lot (Kej 19:26). Akhirnya, bencana itu pun terjadilah, Sodom dan Gomora tak tersisa lagi. Keesokan harinya, ketika Abraham melihat kota itu dari kejauhan, dari tempat ia berdoa, terlihatlah asap kehancuran dan kematian membumbung naik seperti dari tempat peleburan (Kej 19:27-28).

Doa Abraham jelaslah bukan doa seremonial. Bukan sebuah tradisi agamawi. Juga jelas bukan kebiasaan beragama seperti halnya berdoa sebelum makan dan berdoa sebelum tidur. Doa Kristen merupakan bentuk dialog interaktif kita dengan Tuhan. Bukan hanya kita yang berbicara, tetapi Tuhan pun berbicara kepada kita. Dengan demikian doa merupakan pengalaman berjumpa dan bercakap-cakap dengan Tuhan.

KASUS DOA 1: MUJIZAT DI PESAWAT

Kepekaan mendengar suara Roh Kudus juga membuat kita menjadi tenang dan tidak gegabah sekalipun berada di tengah bahaya yang mengancam, seperti dialami Samuel Doctorian. Waktu itu, 29 Desember 1955, Samuel sedang dalam perjalanan udara pada ketinggian 24.000 kaki di atas wilayah Turki. Tiba-tiba, salah satu mesin pesawat terbakar dengan hebatnya. Setiap saat api itu bisa menyentuh tangki bahan bakar dan menyebabkan ledakan yang menghancurkan pesawat tersebut. Enam puluh penumpang sontak menjadi panik. Meskipun lebih tenang, Samuel segera diliputi oleh pikiran-pikiran tentang kematian sebelum akhirnya mendengar suara langsung dari Tuhan Yesus.

Samuel mendapatkan open vision pada waktu itu. Ia merasa seperti digerakkan Roh Kudus untuk masuk ke toilet. Di tempat itu, ia berdoa sambil menangis: ”Tuhan, Engkau Tuhan yang luar biasa. Engkau mampu mengadakan mujizat-muizat besar. Tunjukkanlah kuasa-Mu hari ini!” Tiba-tiba, sosok Yesus hadir dalam pesawat itu. Yesus berkata kepada Samuel: ”Samuel anak-Ku, jangan takut. Demi engkau, Aku akan menyelamatkan pesawat ini dan seluruh penumpangnya!”

Kejadian selanjutnya murni merupakan mujizat. Tiba-tiba, mesin pesawat yang terbakar itu terlepas dan jatuh ke bawah, tepat sebelum api menjilat tangki bahan bakar. Segera sesudah mesin itu terjatuh, pilot memberi informasi: ”Pesawat telah dapat dikuasai. Jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa. Kita akan kembali ke Roma dengan selamat!”

(sumber: Haryadi Baskoro, Doa Mengatasi Bencana Alam, ANDI, Yogya, 2009)

KASUS DOA 2: BERJALAN DI ATAS AIR

Pada tahun 1965-an terjadi lawatan Tuhan yang luar biasa di Soe, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kebangunan rohani itu membangkitkan banyak tim pelayanan yang bergerak ke banyak daerah di sekitarnya untuk memberitakan Injil.

Waktu  itu para penginjil yang bergerak ke mana-mana harus menghadapi ganasnya alam. Salah sebuah tim yang melayani di daerah pedalaman terhambat oleh sungai yang besar, sungai Noemina. Lebar sungai itu 300 yard dan dalamnya sekitar 30 kaki, sebuah sungai besar di pulau Timor. Saat itu banjir, arusnya yang deras mampu menyeret pohon-pohon besar sampai ke laut.

Tim penginjilan itu tertahan di tepi sungai. Bahkan, menyeberanginya dengan sampan yang kuat pun sangat beresiko. Tetapi, Roh Kudus berbicara kepada salah seorang anggota: ”Seberangilah sungai itu!” Ketika tim itu sedang mendiskusikan suara Tuhan tersebut, datanglah orang-orang Kristen lain. Karena mengetahui bahwa tim itu hendak menyeberangi sungai, orang-orang Kristen itu menegur: ”Kalian memang tulus seperti merpati, tetapi harus cerdik seperti ular. Nah, sekarang pakai pikiran kalian dan berdiamlah sampai banjir reda!” Tetapi, pemimpin tim itu menimpali: ”Tidak! Tuhan sudah menyuruh kami untuk menyeberang sekarang juga!” Meskipun demikian, ada beberapa anggota tim itu sendiri yang mulai ragu. Kemudian mereka berdoa, dan kembali mendapatkan peneguhan (title deed) dari Roh Kudus untuk menyeberangi sungai itu hanya dengan iman saja!

Akhirnya, salah seorang anggota tim itu mulai melangkahkan kakinya ke sungai tersebut dengan maksud menyeberanginya. Banyak orang berteriak: ”Oh, bodoh sekali. Jangan! Kau akan mati!” Tetapi, mujizatlah yang terjadi! Pada langkah pertama, air sampai di lutut. Langkah kedua, masih sama. Ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, dan seterusnya, air sungai itu tak pernah lebih tinggi dari lututnya. Ketika ia berada di tengah-tengah sungai yang berkedalaman 30 kaki itu, air tetap tidak melebihi lututnya. Seluruh anggota tim segera mengikuti dan semuanya selamat sampai di seberang.

Kejadian ajaib itu sungguh luar biasa. Saat itu, ada beberapa dukun (penyembah berhala) melihat kejadian tersebut. Mereka pun lantas ingin melakukan hal yang sama karena merasa memiliki kekuatan gaib. Tetapi, begitu mereka malangkahkan kaki ke air, semuanya tenggelam. Warga desa yang menyaksikan semua itu menjadi takjub kepada Yesus, Tuhan Semesta Alam!

(sumber: Haryadi Baskoro, Doa Mengatasi Bencana Alam, ANDI, Yogya, 2009)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.