Q. PANGGILAN

Posted On September 24, 2009

Filed under Q. PANGGILAN

Comments Dropped leave a response

PANGGILAN PELAYANAN

Menjadi hamba Tuhan adalah sebuah panggilan illahi. Dengan demikian seorang hamba Tuhan semestinya mengalami panggilan itu secara supranatural.

Menjadi hamba Tuhan berbeda dengan memilih pekerjaan sekuler. Bukan karena pertimbangan-pertimbangan teknis, ekonomi, dan social. Orang Kristen memutuskan menjadi pelayan Tuhan karena mendengar suara-Nya, menerima visi dari-Nya, dan mendapatkan tugas khusus dari-Nya.

Hal itu bukan berarti harus selalu bersifat spektakuler. Namun soal pengalaman rohani, itu mutlak. Karenanya kita tidak perlu terburu-buru untuk menjadi hamba Tuhan. Kita harus benar-benar mengalami panggilan dengan jelas terlebih dahulu.

MUSA

Tentang proses panggilan dan pengutusan Musa dicatat dalam kitab Keluaran 2:23 – 4:17. Catatan yang cukup panjang lebar itu menunjukkan betapa proses panggilan dan pengutusan itu merupakan sebuah pengalaman mendalam bersama Tuhan.

Pengalaman dipanggil dan diutus itu mencakup penampakan (teofani) Malaikat Tuhan dan proses berdialog dengan Tuhan. Dalam konteks Musa, teofani ini bersifat spektakuler berupa sebuah nyala api illahi yang misterius (Kel 3:2).

PAULUS

Pengutusan Paulus sebagai pelayan Tuhan ternyata tidak sespektakuler momen pertobatannya. Lukas mencatat (Kis 13:1-3) sebagai berikut: Pada waktu itu di dalam jemaat di Antiokia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus:”Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.

Meskipun tidak spektakuler, prosesnya jelas merupakan sebuah pengalaman rohani. Pengutusan itu melibatkan unsur Roh Kudus yang berbicara dengan jelas. Paulus dan Barnabas menerima peneguhan pengutusan itu secara supranatural.

VISI

Diambil dari buku ”Successful Christian Visionaries” karya  Haryadi Baskoro (Yogyakarta: Pena Persada, 2007)

Karena itu, Georga Barna memberikan definisi visi pelayanan Kristen sebagai berikut: visi adalah suatu gambaran mental yang jelas mengenai masa depan yang lebih baik yang ditanamkan oleh Tuhan kepada hamba pilihanNya dan didasarkan pada pemahaman yang akurat tentang Tuhan, tentang diri sendiri, dan tentang lingkungannya.

  • Visi adalah gambaran mental yang jelas tentang masa depan. Visi adalah sebuah konsep atau rumusan cita-cita yang rinci yang memberi arah atau tujuan jelas menuju masa depan.
  • Visi diimpartasikan oleh Tuhan. Sedangkan cita-cita, obsesi, atau ambisi, muncul dari pikiran, perasaan, dan kehendak diri sendiri. Visi adalah cita-cita masa depan yang diberikan Tuhan.
  • Visi diberikan kepada hamba Tuhan. Artinya, visi adalah sebuah panggilan pelayanan. Visi bukan sekedar rasa terbeban, tetapi sebuah tugas yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya.
  • Visi diperoleh (ditemukan, digali, ditangkap) melalui proses belajar, memahami Tuhan, memahami diri sendiri, dan memahami lingkungan.

Dengan demikian visi diperoleh melalui sebuah pengalaman rohani. Tidak sekedar sebagai buah pikiran. Bukan seperti idealisme yang merupakan hasil olah filosofi.

Seringkali, Tuhan memberi visi pada saat tidak terduga. Ketika Musa sibuk dalam pekerjaannya sehari-hari sebagai penggembala, Tuhan memberi visi untuk menjadi pemimpin dan pembebas umat-Nya (Kel 3:1-4). Bahkan, Paulus menerima panggilan pada saat ia giat melawan Tuhan (Kis 9:1-5).

Tetapi, pada umumnya, pemberian visi itu dilakukan Tuhan seiring dengan pertumbuhan kehidupan rohani. Paulus berkata kepada Timotius bahwa jika ia semakin hidup kudus, maka Tuhan akan memberi kepercayaan yang besar (2 Tim 2:20-21). Tuhan akan mempercayakan visi illahi kepada anak-anak-Nya yang memenuhi syarat.

Faktor kesetiaan juga penting. Jika kita setia melakukan visi yang kecil, Tuhan akan memberikan visi-visi yang lebih besar (band. Mat 25:23).

Seringkali, orang mau visinya, tetapi tidak mau memenuhi tuntutannya. Ingin dipakai Tuhan, melakukan perkara besar, dan diberkati. Tetapi, ia tidak mau memenuhi syarat-syaratnya. Maunya, instan dan serba menyenangkan.

Visi illahi yang diberikan Tuhan terkadang berbeda, dan bisa jadi bahkan berseberangan dengan cita-cita diri. Pikiran Tuhan dan pikiran manusia berbeda jauh seperti langit dan bumi. Rancangan Tuhan bukan seperti rancangan manusia (Yes 55:8-9)

Kadang kala, kita harus mengorbankan cita-cita diri demi mengikuti visi illahi. Akibatnya, sering terjadi konflik batin, tarik ulur, perbantahan, dan pemberontakan. Apalagi jika visi illahi itu tidak menyenangkan secara daging. Tidak heran jika Yunus menolak visi untuk melayani di Niniwe, malahan lari ke Tarsis (Yun 1:1-3). Dalam hal ketaatan, Yesus memberi teladan ketaatan. Keputusan-Nya adalah: ”Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”  (Mat 26:39).

Namun, visi yang dari Tuhan itu indah adanya. Rancangan Tuhan itu membukakan masa depan yang cerah (Yer 29:11). Sekalipun sepertinya buruk, di dalam pusat kehendak-Nya pasti ada kedahsyatan.

Seringkali, kita mengkompromikan visi Tuhan dan cita-cita/ambisi/obsesi diri. Di satu sisi, ingin melakukan panggilan-Nya. Di sisi lain, masih ingin mengejar obsesi diri. Ketaatan yang setengah-setengah tidak akan maksimal. Tuhan sendiri menuntut anak-anak-Nya untuk tidak menjadi suam-suam kuku (band. Why 3:15-16).

Berkat Tuhan tercurah maksimal manakala kita berada di pusat kehendak-Nya (in the center of God’s plan). Hidup dalam totalitas panggilan dan visi illahi akan membukakan berkat Tuhan. Jika setengah-setengah, malah susah. Karena tidak fokus dalam visi, bangsa Israel harus mengembara 40 tahun, bukan?

Kalau Tuhan menaruh (mengimpartasi) visi, jiwa kita akan dicengkeram olehnya. Karena itu, sangat penting untuk menyelidiki hal-hal berikut ini:

  • Talenta dan karunia apa yang ada pada kita? Setiap talenta dan karunia yang sudah diberikan Tuhan pasti akan dipakai Tuhan.
  • Kerinduan-kerinduan rohani apa yang kuat? Tidak semua rasa terbeban merupakan indikator adanya visi illahi. Namun, jika Tuhan menaruh visi, pasti muncul kerinduan-kerinduan untuk melayani jiwa-jiwa.
  • Dalam hal apa hati kita berkobar-kobar? Visi illahi akan membuat hati seorang visioner berkobar-kobar. Bahkan, ia rela berkorban dan bahkan berani mati demi visi itu.
  • Pelayanan apa yang paling menarik minat? Kertertarikan pada sebuah pelayanan bisa disebabkan oleh banyak faktor, termasuk faktor-faktor ingin menjadi terkenal dan kaya. Namun, kalau Tuhan memberi visi, kita akan tertarik untuk melayani bukan karena hal-hal yang fana.
  • Pekerjaan apa yang paling membahagiakan? Melakukan pekerjaan atau pelayanan yang sesuai visi akan memberi kepuasan batin.

Menangkap visi illahi berarti mendengar suara Tuhan. Bagaimana Roh Kudus berbicara?

  • Melalui penerangan (iluminasi) saat membaca dan mempelajari Alkitab
  • Melalui kesaksian/suara batin (Rom 9:1)
  • Melalui suara supranatural Roh Kudus (Kis 10:19-23; 1 Sam 3:2-4)
  • Melalui karunia nubuat (1 Kor 14:1,3)
  • Melalui penglihatan-penglihatan
    • Dalam suasana diliputi Roh (Kis 10:9-10)
    • Penglihatan terbuka (Luk 1:26-38)
    • Mimpi-mimpi (Mat 2:13)

Namun, setiap penyataan supranatural harus diuji (1 Tes 5:19-21). Karena itu, kita harus tinggal dalam komunitas rohani yang bisa memberi pertimbangan dan peneguhan (1 Kor 14:29-31).

Untuk bisa menangkap visi, seorang anak Tuhan harus dewasa secara rohani. Ia dekat dengan Tuhan dan bergaul karib dengan Roh Kudus. Ia tulus dalam motivasi dan mencintai Tuhan, sehingga hidup dalam ketaatan akan panggilan illahi.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.